SPPG Tidak Hanya Berfokus Pada Kesehatan, Tapi Juga Memberdayakan Ekonomi Lokal
Purwakarta, JEr. — Kepala Desa Sukatani Azis mengatakan, program ini tidak hanya berfokus pada kesehatan, tetapi juga memberdayakan ekonomi lokal.
Hal itu dikatakannya saat membuka dapur ke -4 Satuan Pelayanan Pemenuhan Giji ( SPPG) Kampung Cikadu, Desa Sukatani Purwakarta, Rabu (29/10/25).
“Program SPPG ini diproyeksikan dapat menambah 6% perputaran ekonomi di desa,” tandasnya.
“Kami mengamati adanya kondisi kritis terkait gizi, di mana angka 18% menunjukkan masalah yang signifikan,” jelas Azis.
Ia menambahkan, program ini tidak hanya berfokus pada kesehatan, tetapi juga memberdayakan ekonomi lokal. “Program SPPG ini diproyeksikan dapat menambah 6% perputaran ekonomi di desa,” tandasnya.
Peresmian ini menandai dimulainya program pemberian Makanan Bergizi (MBG) yang menjangkau 1.052 siswa dari tiga sekolah di Kecamatan Sukatani, yaitu Desa Sukatani, Desa Cijantung, dan Desa Sukajaya.
Fasilitas ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam menekan angka masalah gizi dan memperkuat fondasi kesehatan bagi generasi emas di Purwakarta.
Peresmian SPPG Sukatani dihadiri oleh perwakilan dari berbagai elemen, mencerminkan kolaborasi lintas sektor. Hadir dalam acara tersebut antara lain Kepala SPPG Husen, Danramil Sukatani I Komang S.K., Kapolsek Sukatani Agus Ramdan, Ketua Yayasan MBG Aep, serta perangkat desa dan relawan.
Kepala Yayasan Dapur MBG Sukatani, Aep Saepudin menambahkannya, bahwa operasional program melibatkan 52 relawan. “Kami juga akan berkolaborasi maksimal dengan Bumdes dan Koperasi Desa Merah Putih, khususnya dalam penyediaan bahan baku lokal,” ujarnya.
“Kami mengamati adanya kondisi kritis terkait gizi, di mana angka 18% menunjukkan masalah yang signifikan,” jelas Axis.
Program MBG telah disambut antusias oleh sekolah sasaran. Umar, Kepala Sekolah SD Cijantung, menyatakan 428 siswanya sangat menanti distribusi makanan tersebut.
“Alhamdulillah, siswa kami cukup antusias. Makanan terserap semua, katanya enak dan memuaskan. Mudah-mudahan pemenuhan gizinya cukup bagus untuk anak-anak, terjamin dari segi gizi dan keamanannya,” ujar Umar.
Ia mengakui ada masukan kecil mengenai siswa yang belum terbiasa dengan menu tertentu, yang akan segera diantisipasi dengan alternatif karbohidrat seperti kentang, sesuai saran ahli gizi.
Harapannya, program ini dapat berkelanjutan. “Selain untuk siswa yang sehat menyambut generasi emas, mudah-mudahan bisa mendongkrak perekonomian masyarakat setempat,” pungkasnya.(kos

