Hiburan

Dari Jawa Timur hingga Jakarta, Ratusan Peserta Meriahkan Turnamen Ngadu Langlayangan di Purwakarta

JERnews – Langit Kecamatan Babakancikao dipenuhi warna-warni layang-layang dalam Turnamen Ngadu Langlayangan Piala Bupati Purwakarta yang digelar di Lapangan PT MOS, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (18/7/2026).

Ajang yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Purwakarta ini sukses menyedot perhatian para pecinta layang-layang. Sebanyak 256 peserta dari berbagai daerah di Indonesia ambil bagian dalam kompetisi tersebut.

Ketua Panitia, Mulyana, mengatakan antusiasme peserta sangat tinggi. Pendaftaran bahkan langsung penuh hanya dalam waktu empat jam sejak dibuka, sementara 119 peserta lainnya harus masuk dalam daftar tunggu (waiting list).

“Alhamdulillah, pendaftaran hanya membutuhkan waktu empat jam hingga kuota peserta langsung terpenuhi. Bahkan masih ada sekitar 119 peserta yang masuk waiting list. Ini menunjukkan minat masyarakat terhadap olahraga tradisional ngadu langlayangan sangat luar biasa,” ujar Mulyana.

Ia menjelaskan, para peserta berasal dari berbagai daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Tangerang Selatan, serta hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat, termasuk Bandung dan Majalengka.

Pada turnamen kali ini, panitia mempertandingkan kelas 53–58 sentimeter kategori freestyle. Layang-layang yang digunakan harus memiliki bentangan sayap minimal 53 sentimeter dan maksimal 58 sentimeter sesuai ketentuan yang berlaku.

Sistem pertandingan menggunakan format best of three atau dua kemenangan (2-0). Setiap peserta bertanding secara perorangan dalam bagan sistem gugur. Peserta yang lebih dahulu meraih dua kemenangan dengan memutus benang layang-layang lawan berhak melaju ke babak berikutnya.

“Jika kedudukan masih 1-1, pertandingan akan dilanjutkan hingga salah satu peserta meraih kemenangan kedua. Jadi sistemnya mengejar dua poin,” jelasnya.

Untuk benang gelasan, panitia memperbolehkan penggunaan dua jenis, yakni gelasan matot (mati total) dan gelasan molor yang memiliki tingkat elastisitas tertentu. Namun, ukuran benang dibatasi maksimal 0,35 milimeter sesuai regulasi Komunitas Pelangi Jawa Barat.

Mulyana berharap turnamen tersebut dapat menjadi agenda tahunan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Purwakarta. Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan telah melalui koordinasi dan simulasi bersama pihak KCIC mengingat lokasi perlombaan berada tidak jauh dari jalur kereta cepat, sehingga pelaksanaannya dipastikan aman.

“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa terus berlanjut setiap tahun. Jika mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah serta didukung lokasi yang memadai, kami siap kembali menyelenggarakannya sebagai agenda rutin Hari Jadi Purwakarta,” katanya.

Salah seorang peserta, Ade Jo, mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Purwakarta yang telah memfasilitasi turnamen tersebut. Menurutnya, ngadu langlayangan bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali permainan tradisional yang mulai ditinggalkan.

“Kami sebagai peserta sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Harapan kami, kegiatan ini terus dilaksanakan setiap tahun dan menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Purwakarta,” ujarnya.

Ade Jo menilai permainan layang-layang juga membawa dampak positif bagi anak-anak karena mendorong mereka lebih banyak beraktivitas di luar rumah dan mengurangi ketergantungan terhadap gawai.

“Anak-anak jadi lebih sering bermain di luar rumah. Setelah sore bermain layangan, mereka bisa pulang, mengaji, lalu beristirahat. Ini menjadi salah satu cara melestarikan permainan tradisional sekaligus mengurangi penggunaan gadget,” tuturnya.

Ia pun berharap turnamen yang untuk pertama kalinya digelar dalam rangkaian Hari Jadi Purwakarta ini dapat terus berkembang dan menjadi tradisi tahunan dengan skala yang lebih besar pada tahun-tahun mendatang.

(Boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

RSS
Follow by Email
Telegram
WhatsApp
Tiktok
URL has been copied successfully!