Kalau Sampah Bisa Bicara, Mungkin Sudah Mengadu kepada Bupati
JERnews — Kalau sampah bisa bicara, mungkin Minggu (4/10/2026) kemarin sudah lebih dulu mengadu kepada Bupati Purwakarta.
“Pak Bupati, kami belum disapu!”
Kalimat satire itu terasa pas menggambarkan suasana ketika Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein alias Om Zein melakukan kunjungan mendadak ke salah satu kantor dinas pada hari libur.
Dalam video yang beredar di TikTok, Instagram hingga WhatsApp Group warga, Om Zein justru mendapati sampah masih berserakan meski hari sudah siang.
Gaya khasnya yang ceplas-ceplos pun langsung keluar.
“Kenapa ini sudah siang masih belum dibersihkan?” tanyanya kepada petugas.
Jawabannya sederhana.
“Hari ini hari libur, Pak.”
Nah, di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Bagi Om Zein, hari libur boleh berlaku bagi pegawai, tetapi tampaknya tidak untuk sampah.
“Kalau membersihkan bukan hanya hari libur, tapi ada sampah harus dibersihkan,” tegasnya.
Sampah tidak mengenal kalender.
Om Zein kemudian menanyakan jumlah petugas yang piket hari itu.
Jawabannya: dua orang.
Dua orang untuk menangani kebersihan lingkungan kompleks perkantoran pemerintah daerah.
Namun, persoalan belum selesai.
Om Zein kemudian menghubungi pengawas kebersihan melalui sambungan telepon yang terdengar jelas dalam video.
Pertanyaannya: berapa total petugas kebersihan yang ada?
Jawabannya:
100 orang.
Di titik inilah Om Zein langsung mempertanyakan perbandingan tersebut.
“Masa seratus yang tugas cuma dua orang!”
Kalimat itu pun menjadi bagian yang paling menyita perhatian dalam video.
Tetapi persoalannya sebenarnya bukan sekadar 100 orang versus 2 orang.
Yang lebih penting adalah: bagaimana sistem penugasannya?
Bagaimana pembagian jadwalnya? Siapa yang mengawasi? Bagaimana kehadiran petugas pada hari libur dipastikan? Dan siapa yang bertanggung jawab ketika lingkungan kantor masih ditemukan kotor?
Sebab kebersihan kantor pemerintahan bukan sekadar urusan sapu dan tempat sampah. Ia juga menyangkut kedisiplinan, tanggung jawab, pengawasan, dan wajah pemerintah di hadapan masyarakat.
Masyarakat setiap hari diminta menjaga kebersihan lingkungan. Karena itu, agak ironis jika kantor pemerintah justru harus disidak untuk memastikan sampah tidak berserakan.
Karena itu, sidak Om Zein sebaiknya tidak berhenti sebagai video viral.
Jika benar ada 100 petugas kebersihan, publik tentu wajar mengetahui bagaimana pola penugasannya. Bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi agar semuanya jelas dan tidak menimbulkan prasangka.
Berapa yang bertugas setiap hari? Bagaimana sistem piketnya? Siapa pengawasnya? Dan bagaimana evaluasi dilakukan jika kebersihan tidak terjaga?
Pertanyaan itu penting agar persoalan tidak selesai hanya dengan teguran sesaat.
Om Zein sudah membuka persoalan di lapangan. Kini tinggal bagaimana perangkat di bawahnya menjelaskan sistem yang berjalan.
Kalau sampah bisa bicara, mungkin keluhannya sebenarnya sederhana:
“Pak Bupati, kami bukan minta dilayani 24 jam. Kami cuma minta jangan ditinggal terlalu lama.”
Dan kalau petugasnya memang 100 orang, publik tentu berharap bukan hanya angkanya yang seratus.
Sebab jangan sampai yang bekerja sungguh-sungguh hanya dua orang, sementara 98 lainnya sekadar menjadi angka di atas kertas.
Om Zein sudah buka kartu. Sekarang giliran Bagian Umum buka data.
Bukan cuma untuk menjawab berapa jumlah petugas, tetapi untuk memastikan: apakah 100 orang itu benar-benar bekerja, atau selama ini hanya dua orang yang menjadi pahlawan kebersihan Pemda?
(Boy)

