Jabar

Modal Kreativitas, Ketua BUMDes Cilangkap Sulap Barang Bekas Jadi Fasilitas Kantor

JERnews– Siapa bilang membangun kantor yang nyaman dan terlihat modern harus mengeluarkan biaya besar?

Pertanyaan itu seolah terjawab di BUMDes Cilangkap. Di tangan Ketua BUMDes Cilangkap, Ahmad, berbagai barang bekas justru disulap menjadi perlengkapan kantor yang fungsional, rapi dan enak dipandang.

Mulai dari meja hingga sejumlah bagian interior kantor, dibuat dengan memanfaatkan material bekas dan dirancang sendiri. Hasilnya, kantor BUMDes Cilangkap tampil representatif dan secara tampilan tidak kalah dengan kantor yang perlengkapannya dibeli dalam kondisi baru.

“Barang-barang kita gunakan barang bekas. Meja juga barang bekas, dari peti kemas. Kami bikin sendiri, olah sendiri,” ujar Ahmad.

Bagi Ahmad, kreativitas tersebut bukan sekadar soal menghemat anggaran. Ia ingin menunjukkan bahwa pengelolaan BUMDes bisa dilakukan dengan prinsip efisiensi sekaligus memanfaatkan potensi yang tersedia.

Salah satu bagian kantor yang menjadi contoh adalah kaca dan rangka aluminium. Ahmad mengaku sempat mendapatkan perkiraan biaya sekitar Rp15 juta jika pengerjaannya diserahkan kepada tukang.

Namun, ia memilih membeli material sendiri dan mengerjakannya secara mandiri.

“Kalau saya tanya ke tukang, untuk kaca ini berapa, katanya Rp15 juta. Saya belanja materialnya sendiri. Kaca sekitar Rp2 juta, aluminium Rp1 juta,” ungkapnya.

Kreativitas Ahmad tidak berhenti pada urusan interior. Sejak dipercaya memimpin BUMDes Cilangkap pada 2022, ia berupaya mengembangkan BUMDes agar tidak hanya menjadi lembaga usaha, tetapi juga hadir sebagai bagian dari pelayanan masyarakat.

BUMDes Cilangkap kini melayani berbagai kebutuhan warga, seperti PPOB, Pospay, pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan serta simpan pinjam.

Bahkan, layanan simpan pinjam juga dapat dimanfaatkan Linmas dan aparatur ketika membutuhkan dukungan untuk keperluan tertentu, seperti hajatan maupun saat menghadapi kondisi sakit.

“Pelayanan masyarakat yang sifatnya non-governmental. Kalau di pemerintahan tidak ada, kita coba layani juga. Jadi multifungsi,” katanya.

Bukan Sekadar Tempat Usaha

Ahmad bahkan memiliki gagasan menjadikan BUMDes Cilangkap sebagai “Mini Madukara” di tingkat desa.

Konsepnya, masyarakat dapat memperoleh berbagai kemudahan pelayanan tanpa harus selalu pergi ke pusat kota.

Mulai dari membantu kebutuhan administrasi, informasi terkait mutasi PBB hingga proses balik nama sertifikat, BUMDes berupaya menjadi pintu awal bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi dan bantuan sesuai kapasitasnya.

“Kita cita-citanya seperti Mini Madukara. Kepentingan masyarakat umum bisa dilayani di sini,” ujarnya.

Menurut Ahmad, pendekatan pelayanan secara langsung di desa membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan akses.

“Supaya lebih mengarah kepada pendekatan personal masyarakat. Jadi lebih mudah, tidak lagi harus ke kota, cukup di desa saja,” katanya.

Keuntungan Usaha Kembali ke Desa

BUMDes Cilangkap sendiri telah berdiri sejak 2017. Dalam pengelolaannya, unit simpan pinjam menjadi salah satu kegiatan usaha.

Dari kegiatan tersebut, BUMDes memperoleh keuntungan yang sebagian disisihkan untuk Pendapatan Asli Desa (PADes).

“Kesepakatan dengan anggota itu dua persen. Dari satu juta, Rp20 ribu disisihkan untuk PADes. Bukan untuk kita, nanti kita setor ke desa,” jelas Ahmad.

Ia juga menegaskan bahwa pembangunan dan penataan kantor BUMDes dilakukan menggunakan hasil keuntungan usaha, bukan Dana Desa.

“Ini dari keuntungan simpan pinjam usaha kami. Tidak ada dari Dana Desa untuk ini,” tegasnya.

Namun, Ahmad menyadari masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satunya membangun kesepahaman seluruh pihak agar memiliki visi yang sama dalam mengembangkan BUMDes.

“Tujuan saya ada kesepahaman, satu otak, satu kepala, bahwa ingin memajukan BUMDes. Anggaran yang ada dijadikan usaha. Hasilnya untuk PADes dan nantinya bisa kembali untuk kepentingan masyarakat,” pungkasnya.

Kisah BUMDes Cilangkap menjadi gambaran bahwa inovasi tidak selalu lahir dari modal besar. Kadang, barang yang dianggap tidak terpakai justru bisa menjadi sesuatu yang bernilai ketika berada di tangan orang yang kreatif.

Di Cilangkap, barang bekas bukan sekadar barang bekas. Ia berubah menjadi meja, interior, fasilitas kantor, sekaligus menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana sebuah BUMDes mencoba tumbuh dengan cara sendiri.

Motonya sederhana: memajukan BUMDes berarti ikut memajukan desa.

(Boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

RSS
Follow by Email
Telegram
WhatsApp
Tiktok
URL has been copied successfully!