Purwakarta

Kepedulian Terhadap Anak Yatim Sebaiknya Tidak Saja Dilakukan Bulan Muharam Tetapi Menjadi Kebiasaan Setiap Hari.

 

Purwakarta, Jer. – Hj Cucu Komariah mengatakan, kepedulian terhadap anak Yatim sebaiknya tidak saja dilakukan bulan Muharam tetapi menjadi kebiasaan setiap hari.

Hal itu dikatakannya saat Peringatan Hari Besar Islam (PHBN) dan Hari Besar Nasional (PHBN) berlangsung khidmat di Aula Maya Datar, Pemda Purwakarta, Sabtu (9/8/2025).

Kegiatan ini Mengusung tema “Jadikan Momentum Tahun Baru Islam 1447 H dan Semangat Kemerdekaan RI ke-80 untuk Mempererat Persaudaraan dan Kepedulian”, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus wujud kepedulian kepada sesama.

Acara diisi dengan tausiah, doa bersama, dan penyerahan santunan kepada 50 anak yatim serta 50 penyandang tuna netra.

Bupati Purwakarta melalui Kabag Kesra, Wawan Supriatna, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

Ia berharap semangat berbagi dan kepedulian kepada dhuafa dapat terus terjaga dan menjadi pengikat silaturahmi.

Momen penyerahan santunan secara simbolis dilakukan oleh perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta, Dewan Masjid Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, Kabag Kesra, Kapolres Purwakarta, Dandim Purwakarta, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., dan Ketua DMI Kabupaten Purwakarta.

Dalam sambutannya, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd.—pembina BKMM sekaligus pengurus Muslimat Jawa Barat—menyampaikan apresiasi atas kegiatan PHBUI dan PHBN yang juga dibalut kompetisi kuliner dan seni. Ia menilai santunan kepada Persatuan Tuna Netra menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. “Mereka mungkin memiliki keikhlasan dan ketakwaan yang tinggi di hadapan Allah. Karena itu, kita perlu mendukung mereka, bukan hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga melalui pengembangan keterampilan hidup agar semakin kuat dan tangguh,” ujarnya.

Di sela acara, salah satu sosok perempuan inspiratif, Bunda Tuti, berbagi pengalaman dan pandangannya. Sebagai pengurus BKMM, aktif di Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), serta Bendahara Muslimat, Bunda Tuti menekankan pentingnya kebersamaan dan kepedulian dalam organisasi.

“Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik dan berbuat baik kepada siapa pun. Meski kepada orang yang biasa-biasa saja, kita tidak boleh lelah untuk menyapa, membantu, atau menulis sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa melalui kegiatan bersama Pertuni dan organisasi lain, ia mendapatkan banyak pelajaran hidup. “Setiap pertemuan membawa momen berharga. Dari awal sampai rutin tiap bulan, selalu ada rasa senang dan bersyukur. Meski kadang ada rasa lelah, pengalaman ini mengajarkan bahwa hidup itu seperti mengayuh sepeda—harus terus bergerak agar tetap seimbang,” tambahnya.

Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah pun menegaskan kebanggaannya menjadi bagian dari gerakan perempuan yang berkontribusi nyata di masyarakat. “Perempuan tidak hanya identik dengan dapur, kasur, dan sumur. Kita punya peran penting di masyarakat, sambil tetap menjaga peran utama di keluarga. Untuk meraih kebahagiaan dunia dibutuhkan ilmu, dan untuk kebahagiaan akhirat juga diperlukan ilmu,” tambahnya.(Deski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

RSS
Follow by Email
Telegram
WhatsApp
Tiktok
URL has been copied successfully!