Opini

Kritik sebagai Vitamin Demokrasi

JER – Dalam sistem demokrasi, kritik seharusnya menjadi mekanisme kontrol yang sehat bagi pemerintahan. Namun, belakangan ini, kekuasaan cenderung alergi terhadap kritik, menganggapnya sebagai gangguan atau bahkan provokasi. Kritik dilabeli “toxic” atau “tidak solutif”, dan ekspresi kekecewaan rakyat direspons dengan stigmatisasi atau kriminalisasi.

Mengapa Kritik Dianggap Gangguan?

Kritik dianggap gangguan karena ada kesalahan berpikir bahwa siapa pun yang mengkritik berarti “tidak loyal” atau “membenci negara”. Padahal, kritik muncul karena kepedulian dan merupakan tanda cinta, bukan kebencian. Pemimpin yang tidak tahan kritik dan hanya mau mendengar sanjungan sedang menyiapkan jalan menuju otoritarianisme.

Tugas Utama Pemimpin

Tugas utama pemimpin adalah mendengar, memahami, dan memperbaiki, bukan menuntut rakyat untuk diam dan patuh. Kritik seharusnya menjadi cermin untuk melihat realitas di luar lingkar kekuasaan. Jika kritik dianggap ancaman, maka demokrasi sedang berada dalam bahaya.

Pemimpin yang Dibutuhkan

Kita tidak butuh pemimpin yang anti-kritik, melainkan pemimpin yang tahan dikritik, mau berubah, dan mengingat siapa yang mereka wakili: rakyat. Kritik tidak akan berhenti hanya karena ditekan, tetapi akan terus tumbuh ketika kebenaran diabaikan

Penulis: Sutisna Sonjaya
Ketua Pospera Purwakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

RSS
Follow by Email
Telegram
WhatsApp
Tiktok
URL has been copied successfully!