Petani Milenial Purwakarta: Program Modern, Tapi Jangan Sampai Jadi Proyek Formalitas
JERnews – Program petani milenial sejak awal digagas sebagai solusi regenerasi petani sekaligus modernisasi sektor pertanian. Pemerintah Jawa Barat menargetkan lahirnya petani muda yang tidak hanya mampu bertani, tetapi juga menguasai teknologi, pemasaran digital, hingga jejaring bisnis global.
Program ini bahkan didesain agar petani muda bisa memiliki penghasilan setara sektor urban dan mengisi kekosongan tenaga kerja pertanian di masa depan.
Namun dalam implementasinya di lapangan, termasuk di wilayah seperti Dipangtan dan kawasan pertanian Purwakarta, muncul pertanyaan mendasar:
apakah program ini benar-benar membangun petani, atau hanya membangun laporan kegiatan?
Di atas kertas, banyak program pertanian modern memang menjanjikan. Bahkan beberapa proyek pertanian terpadu di Jawa Barat disebut bisa membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kolaborasi lintas instansi dan perusahaan.
Tetapi realita di lapangan seringkali jauh lebih kompleks dari presentasi resmi.
Masalah Klasik: Seremoni Lebih Cepat dari Sistem
Jika pelatihan petani milenial hanya berhenti pada sosialisasi, bimtek singkat, atau pendataan administratif, maka output yang dihasilkan hanya angka — bukan petani mandiri.
Tanpa akses nyata terhadap Lahan produksi yang jelas statusnya
Modal kerja yang berkelanjutan
Pendampingan teknis rutin
Jaminan pasar hasil panen
Program petani milenial berisiko berubah menjadi sekadar program simbol regenerasi, bukan transformasi pertanian.
(Boy)

