Dari Lumpur Jadi Skandal: Alarm Keras dari Majene untuk Purwakarta
Penulis: Panuntun Catur Supangkat
Sekretaris Pospera Purwakarta
JERnews – Kasus korupsi pembangunan IPLT di Majene bukan sekadar kabar kriminal biasa. Ia adalah potret telanjang bagaimana proyek yang seharusnya melindungi kesehatan publik justru dijadikan ladang bancakan.
Empat tersangka, kerugian Rp 635 juta. Angka yang mungkin terlihat kecil di atas kertas. Tapi dampaknya? Jauh lebih besar dari sekadar rupiah.
Yang dikorbankan adalah sanitasi. Lingkungan. Dan pada akhirnya, kesehatan masyarakat.
IPLT seharusnya menjadi garda depan dalam pengelolaan limbah domestik. Tapi ketika proyek ini dikorupsi, yang terjadi justru sebaliknya: limbah yang mestinya diolah dengan aman berubah menjadi ancaman tersembunyi.
Ini bukan lagi sekadar korupsi anggaran. Ini adalah kejahatan terhadap kualitas hidup masyarakat.
Lebih ironis lagi, modusnya itu-itu saja. Pengurangan volume, permainan spesifikasi, hingga hasil proyek yang asal jadi. Resep lama yang terus dipakai, seolah sistem pengawasan kita tidak pernah benar-benar belajar.
Lalu, apakah Purwakarta aman?
Jangan terlalu cepat yakin.
Sejarah sudah mencatat, daerah ini bukan wilayah steril dari korupsi. Ada pejabat yang terseret, ada yang divonis. Fakta itu cukup menjadi alarm bahwa potensi penyimpangan selalu ada dan bisa terulang.
Pertanyaannya bukan “mungkin atau tidak”, tapi “kapan dan di mana” jika celah tetap terbuka.
Di sinilah tanggung jawab kepala daerah diuji. Bupati tidak cukup hanya bicara program dan capaian. Yang lebih penting adalah memastikan orang-orang di balik proyek memiliki integritas.
Karena menempatkan orang tanpa integritas di proyek publik sama saja membuka pintu bagi korupsi.
Dan ketika itu terjadi, yang rugi bukan hanya keuangan daerah tapi masyarakat luas.
Masalahnya, proyek seperti IPLT sering luput dari perhatian. Tidak populer, tidak menjual secara politik. Tapi justru di situlah korupsi sering bersembunyi di ruang sunyi yang minim pengawasan.
Tanpa transparansi, tanpa keterlibatan publik, dan tanpa audit yang serius, proyek seperti ini hanya tinggal menunggu waktu untuk disalahgunakan.
Kasus Majene seharusnya menjadi peringatan keras.
Korupsi tidak pernah mati. Ia hanya menunggu kesempatan.
Dan jika Purwakarta tidak berbenah, bukan tidak mungkin bau busuk yang hari ini tercium di Majene, besok justru datang dari sini.

